Ramadhan Sarana Pembentukan Karakter

Ramadhan Sarana Pembentukan Karakter

Dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 183 jelas dinyatakan bahwa tujuan dari diwajibkannya ibadah puasa bagi seorang muslim adalah agar terbentuk ketaqwaan. “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Pertanyaannya, bagaimana ibadah puasa selama sebulan penuh dapat membentuk seorang beriman memiliki ketaqwaan yang baik?

Taqwa merupakan kedudukan tertinggi seorang muslim di hadapan Allah SWT. Memiliki kedudukan tertinggi di hadapan Allah SWT tentu merupakan dambaan terbesar bagi orang beriman. Ketaqwaan, sesungguhnya bukan hanya membuat seseorang memiliki kedudukan mulia di hadapan Allah, tapi juga akan berimplikasi pada kemuliaan di hadapan manusia. Mengapa? Karena ketakwaan pada seseorang, seberapapun tingkatan ketakwaannya, tentu akan berkorelasi dengan akhlak, karakter, dan kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan oleh karena itu, jika puasa Ramadhan dapat mebentuk ketakwaan pada seorang beriman yang menjalankannya, maka tentu dengan sendirinya puasa tersebut juga akan membentuk karakter positif pada dirinya, karena ketakwaan seseorang akan tercermin dari karakternya sehari-hari.

Dalam ayat yang lain Allah menggambarkan beberapa ciri orang yang bertaqwa. Di antaranya, dalam surat Al Baqoroh ayat 1-5 disebutkan bahwa ciri-ciri orang bertaqwa antara lain adalah beriman kepada yang gaib, melaksanaakan salat dan berinfak. Dalam surah Ali Imran ayat 134-135 disebutkan ciri lain orang bertakwa yaitu, orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, menahan amarahnya, memaafkan kesalahan orang lain, dan apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri segera ingat kepada Allah, lalu memohon ampun kepada-Nya. Ciri-ciri ketakwaan ini pada dasarnya merupakan karakter positif yang harus dimiliki seorang yang beriman dan bertaqwa. Sungguh tidaklah mudah karakter-karakter positif itu dapat terbentuk pada diri kita. Perlu pembiasaan dan pemaksaan agar kita memiliki karakter positif. Dan ibadah puasa di Bulan Ramadhan sesungguhnya mampu menjadi sarana dalam pembntukan karakter orang bertaqwa.

Bagaimana Ramadhan dapat membentuk karakter positif, yaitu karakter ketakwaan? Sebagaimana kita ketahui bulan Ramadhan berisi serangkaian ibadah baik yang sifatnya wajib, sunnah maupun yang dianjurkan untuk banyak dilaksanakan. Ada banyak keutamaan dan pahala yang Allah sediakan bagi mereka yang melaksanakan ibadah dengan penuh kekhusyuan di bulan Ramdhan dengan memperbanyak kuantitas dan kualitasnya. Allah SWT memotivasi kita untuk menghiasi diri kita dengan benyak melakukan kebaikan-kebaikan selama Ramadhan, baik kebaikan dalam bentuk amalan batin, pikiran, maupun amal fisik. Di waktu siang kita diwajibakan untuk menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Ini berarti kita sedang dilatih membiasakan diri tentang kesabaran, ketaatan, kejujuran, kesungguhan, kemampuan bertahan dalam keadaan yang lemah. Di malam hari kita dipintakan untuk banyak berzikir dan bermunajat di pertengahan malam. Ini pun kita sedang dilatih Allah, dilatih tentang keyakinan, tentang pentingnya makna spiritualitas, tentang komunikasi batiniah, yang tidak semua orang mampu memilikinya. Di akhir Ramadhan kita diminta untuk membayar zakat fitrah, zakat maal dan banyak berinfak dan lebih mempabanyak ibadah. Disinipun kita juga dilatih oleh Allah untuk memiliki jiwa yang peka terhadap sesama, belajar tentang sikap peduli kepada penderitaan orang lain, jiwa bekorban, sikap empati, kerjasama dan gotong royong. Jika setiap hari, setiap saat kita “dipaksa” untuk terbiasa dan terlatih melakukan aktivitas-akvititas kebaikan tersebut selama satu bulan penuh, meskipun awalnya pasti terasa berat, terutama di hari-hari pertama Ramadhan, maka aktivitas-aktivitas tersebut pada akhirnya menjadi kebiasaan yang terasa ringan untuk dilakukan. Jika suatu kebiasaan yang positif dilakukan secara terus-menerus, yang mungkin awalnya dilakukan dengan penuh kesadaran dan sedikit dipaksakan, maka lama-kelamaan kebiasaan itu akan aktivitas yang berjalan dengan sendirinya. Pada titik ini, ia akan melakukan kebiasaan positif tersebut tanpa dia sadari karena kebiasaan tersebut sudah masuk ke pikiran bawah sadarnya. Pada titik inilah kebiasaan positif tersebut berubah menjadi karakter positif. Dan karakter-karakter positif yang terbentuk tersebut merupakan tentu saja bagian dari karakter ketaqwaan. Begitulah proses pembentukan karakter takwa terbentuk pada seseorang melalui wasilah ibadah puasa selama bulan Ramadhan.
Wallahu’alam bishshowab.


Penulis:
Dosen dan Pembina Forum Silaturahmi Islam (FOSI) di FP Unila
Pengelola Yayasan Daarul Hikmah dan YASMIN Bandar Lampung.
Direktur Lembaga Manajemen Terapan Trustco Lampung

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *